Rapat Pemuda Pangestu Jebres Untuk Kegiatan PPMB
Jebres Solo, Minggu 13 Mei 2012, Pemuda pemudi Pangstu Solo mengadakan rapat kecil membahas Partisipasi untuk kegiatan PPMB di Semarang Jawa Tengah. Rapat yang dihadiri Puluhan pemuda dan pemudi itu menghasilkan nama – nama yang akan dikirikan ke Semarang guna mensukseskan kegiatan PPMB nantinya.
Oh,…Ternyata Bukan Katanya
Penulis : Bp. Slamet Raharjo – Kalimantan
Belakangan ini organisasi kita tercinta, Pangestu tengah gencar mengadakan konsolidasi berupa pelatihan-pelatihan, baik di pusat maupun daerah. Juga yang masih sangat hangat adalah sarasehan seluruh ketua cabang Pangestu seluruh nusantara yang diadakan di Bali. Tujuan utama dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas warga Pangestu, sebagai calon siswa dan siswa Sang Guru Sejati. Adapun materi yang dibahas, biasanya tidak terlepas dari ; bagaimana agar tugas kita meyebarluaskan ajaran Sang Guru Sejati, dapat berhasil, sesuai dengan yang kita harapkan.
Banyak persiapan-persiapan lahir, seperti menyiapkan materi, mempelajari buku wajib dan sebagainya. Namun tak kalah penting, adalah persiapan batin sebagai pelaksanaan ajaran Sang Guru Sejati. Yang penulis maksud adalah ; sudahkah kita benar-benar melaksanakan ajaran yang kita pelajari?
Secara kasat mata, kita juga akan dapat merasakan penyampaian ajaran yang benar-benar dihayati(karena telat dilaksanakan sebelumnya), dengan penyampaian yang hanya berdasarkan teori(maaf : dibaca lelamisan). Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan kalimat berikut ;
1. Ternyata makan cabe dapat membuat perut jadi mulas dan sakit.
2. Katanya makan cabe dapat membuat perut jadi mulas dan sakit.
Contoh berikutnya ;
1. Ternyata mewakili tugas Sang Guru Sejati akan dicukupi kebutuhan kita.
2. Katanya mewakili tugas Sang Guru Sejati akan dicukupi kebutuhan kita.
Hanya dengan perbedaan di awal kalimat ; ternyata dan katanya , sangat jelas arah masing-masing kalimat. Kalimat nomor 1, menyatakan bahwa sang penyampai kalimat benar-benar telah mengalami atau membuktikan. Adapun kalimat nomor 2, menyatakan bahwa yang bersangkutan bukanlah orang yang mengalaminya sendiri, melainkan baru sampai pada tahap mendengar atau membaca. Dalam penyampaiannyapun berbeda tekanan kalimatnya.
Maksud yang ingin penulis sampaikan adalah selain persiapan lahir di atas, persiapan batin juga sangat penting. Artinya bahwa hendaknya kita melaksanakan terlebih dahulu ajaran yang akan kita ajarkan kepada orang lain.
Sabda Khusus Peringatan 12 alenia 3 : “Artinya, seseorang memberikan ajaran harus sudah merasakan ajaran yang sudah diajarkannya kepada orang lain”.
Seringkali kita mengikuti olah rasa dengan suasana yang tidak kita harapkan. Seperti bosan mendengar pengisinya hanya seperti orang membaca, tanpa ada kata-kata menyentuh yang mampu memotivasi kita untuk melaksanakannya. Kenyataan seperti ini terjadi karena sang pengisi, meskipun warga senior, tetapi sedang tidak disertai pepadang karena belum melaksanakan ajaran yang tengah disampaikan. Kekuatan sugesti itu tidak bisa ia tampilkan. Seorang petani akan berbeda dalam menjelaskan cara bercocok tanam dengan mahasiswa pertanian. Orang akan lebih mudah memahami apa yang disampaikan oleh sang petani, karena telah praktek langsung, dibandingkan mahasiswa jurusan pertanian yang baru sampai pada tahap teori. Dalam Arsip Sarjana Budi Santosa, Pak Mantri juga menjelaskan bahwa ; Sasangka Jati adalah buku praktikum, bukan buku teori. Jadi sebagus apapun ajaran Sang Guru Sejati, jika tidak kita amalkan dan kita sebarluaskan, semua itu hanya akan menjadi kalimat-kalimat indah yang menghiasi buku. Karena itu, marilah kita temukan kesunyataan yang terkandung dalam ajaran, sebagai bekal agar kita mempunyai kekuatan dasar untuk menyebarluaskan ajaran-Nya.
Sabda Khusus Peringatan 19 alenia 8 :”Sesungguhnya Aku telah memberi wejangan dan ajaran yang juga sudah diperingati, namun apabila tidak kaurasa-rasakan dan tidak kaubabarkan dalam tindakan(laku), itu berarti engkau tidak ingin menerima atau memetik keadaan yang kau cita-citakan.”
Selanjutnya terserah kepada kita semua, apakah kita hanya akan berdiri saja di tepi kolam, atau menyeburkan diri menikmati beningnya air?
Apakah kita hanya ingin memandang indahnya ajaran yang adiluhung ini, tanpa berniat ingin membagi/menularkan keindahan ini kepada yang lain?
Jika kita ingin menikmati indahnya kolam dan beningnya air. Jika kita ingin membagi pepadang ini kepada yang lain, mari bekali diri kita dengan melaksanakan ajaran agar kita dapat menyaksikan kesunyataan yang dijanjikan Sang Sabda kepada kita semua.
Sungguh, ternyata…memang bukan katanya…!!
UTUSAN TUHAN YANG LAIN
Penulis : Bp. Slamet Raharjo – Kalimantan
Alkisah, pada suatu hari datanglah Utusan Tuhan yang ditugaskan untuk mengambil nyawa seorang lelaki setengah baya, sebut saja Suto. Berkatalah Utusan itu kepadanya :”Kedatangan-Ku atas nama Tuhan untuk mengambil nyawamu, untuk diserahkan kembali kepada-Nya. Bagaimana, apakah engkau sudah siap?”
Suto terkejut setelah mengetahui siapa yang datang. Wajahnya pucat pasi. Kemudian dengan terbata-bata, diapun menjawab :
“Wahai Utusan yang bijaksana, sebenarnya hamba siap dipanggil kapan saja. Namun tidakkah Paduka bisa melihat keadaan hamba? Anak-anak masih kecil, hidup hamba juga masih serba kekurangan. Apa yang bisa saya tinggalkan kepada mereka? Masih banyak tugas yang belum hamba selesaikan. Kiranya Paduka mengerti keadaan hamba.”
“Artinya bahwa sesungguhnya engkau belum siap untuk berangkat sekarang, bukan?” Tanya Sang Utusan.
“Begitulah Paduka. Tolong sampaikan kepada Tuhan, hamba siap dipanggil apabila semua tugas sudah hamba laksanakan dengan baik. Dan hamba juga yakin bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Dia pasti tahu apa yang menjadi permohonan hamba-Nya.” Suto coba menawar.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan coba sampaiakan kepada Tuhan tentang keberatanmu itu. Semoga permohonanmu dikabulkan Tuhan..”
“Satu lagi permohonan hamba, tolong sampaikan kepada-Nya ; jika saatnya hamba sudah dekat untuk dipanggil, tolong kirimkan kembali utusan kepada hamba, agar hamba dapat mempersiapkan diri.” Suto kembali mengajukan keberatannya.
Waktu terus berjalan. Hari menjadi mingu. Minggu ke bulan. Bulan ke tahun. Tak terasa duapuluh tahun sudah semenjak kedatangan Utusan itu, Sutopun tak pernah ingat lagi apa yang dia alami dan pernah dia janjikan. Hingga pada hari itu Sang Utusan kembali datang.
“Aku datang kembali untuk melaksanakan tugas dari Tuhan, yaitu mengembalikanhidupmu kepada-Nya. Bagaimana, apakah engkau sudah benar-benar siap sekarang?” Tanya Sang Utusan, terdengar oleh Suto bagaikan petir di siang hari.
Dengan muka merah padam dan gemetaran, Suto berusaha menjawab ;” Maaf Paduka. Bukannya hamba belum siap. Tapi bukankah sebelumnya sudah hamba katakan, supaya jauh-jauh hari memberi tahukan kepada hamba, sehingga hamba benar-benar siap.”
Ketahuilah : “ Selagi hamba masih di dunia, Tuhan sudah memberi isyarat kepada para hamba semua bahwa mereka akan dipanggil pulang ke hadirat Tuhan, yaitu akan meninggal dunia(mati). Adapaun isyarat itu bermacam-macam, seperti : kisutnya kulit, ketika masih muda gemuk, semakin tua semakin susut(sakit-sakitan), berkurangnya kekuatan, ketika muda kuat, setelah tua menjadi lemah, kadang-kadang jompo, berkurangnya pendengaran dan penglihatan, pikun, serba kurang, putihnya rambut(beruban), dan sabagainya.” Sasangka Jati, Bab Sangkan Paran hal 131.
Itulah sebenarnya UtusanTuhan Yang Lain, yang tidak pernah kauperhatikan. Sang Utusan kembali menjelaskan.
Itu semua disebabkan oleh : “Karena keasikanmu akan barang-barang yang kaucintai yang tampak dalam pandangan itu, menyebabkan engkau pisah daripada-Ku.” Sabda Khusus Peringatan 8 alenia 10.
“Pada hakikatnya, bukan harta benda atau barang-barang duniamu, seperti kekayaan, kedudukan, kesejahteraan dan sebagainya itu, yang menyebabkan engkau lupa kepada-Ku, melainkan cintamu atau melekatnya hatimu pada barang-barang duniawi itulah yang menjadi aling-aling yang menutupi hal-hal yang benar(haq)” Sabda Khusus Peringatan 1 alenia 11.
“Engkau sekalian boleh berupaya mencari harta benda sebanyak-banyaknya, asal jangan sampai membelenggu hatimu dan membuat silau penglihatanmu.” Olah Rasa Di Dalam Rasa, Bab Goda Kasar hal 69 cet 2000.
(GEMATI Edisi Februari 2010).
Menilik Ulang Prasaran Dr. (Hc) Hendarman Soepandji, SH, CN untuk Pemuda Indonesia
Dr. (Hc) Hendarman Soepandji, SH, CN begitu nama lengkap beliau disebut. Dalam Kongres Pangestu XVI di Surakarta, 21 Mei 2010 beliau menyampaikan prasaran bagi Pemuda Indonesia sebagai generasi ujung tombak dalam memikul tanggungjawab besar membangun bangsa Indonesia. Prasaran beliau meliputi 3 pokok harapan sebagai berikut :
- Menjaga kemurnian ajaran Sang Guru Sejati dengan membentuk suatu organisasi atau kelompok yang berisi para pemuda yang tekun dan taat dalam menjaankan ajaran Sang Guru Sejati dan kemudian terus menerus dapat memberikan masukkan dan saran bagi pengembangan ajaran Sang Guru Sejati
- Agar generasi muda selalu aktif dalam kegiatan pamiwahan putra, remaja dan pemuda agar memperkenalkan dan mengembangkan ajaran Sang Guru Sejati sejak dini. Aktif menumbuhkan kemampuan berinteraksi satu sama lain, sehingga mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat, mau bekerjasama, tidak pemalu, menjadikan mereka pemimpin dengan bekal ajaran Sang Guru Sejati. Generasi Muda adalah penentu masa depan organisasi. Pembinaan generasi muda melalui pedoman PANCAMARGA (kepercayaan kepada Tuhan YME, Pendidikan lahir batin, Pergaulan yang Baik, dan Cita cita yang tinggi dan luhur).
OLAH RASA GABUNGAN PEMUDA SE JATENG – DIY DI SOLO
PANCAMARGA Online – Begitu hikmatnya pelaksanaan Olah Rasa se Jateng – DIY yang di selenggarakan di Dana Warih Laweyan Surakarta yang diselenggarakan oleh Pemuda pemudi Pangestu Solo. Serasa menambah dekatnya kita kepada Tuhan Sejati pencipta alam beserta isinya. Kegiatan pengolahan jiwa ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kita kepada Tuhan YME. Dihadiri oleh kurang lebih 150 orang peserta yang berasal dari berbagai daerah se Jateng – DIY seperti Parakan, Klaten, Salatiga, Semarang, Sragen, Jogja, Delanggu dan Jakarta. Ratusab Pemuda itu turut serta memadati ruangan Dana Warih Laweyan Surakarta. Harapan kedepan penggelaran Olah Rasa ini dapat dilaksanakan secara rutin dan bergilir ke berbagai daerah se Jateng – DIY atau kalau memungkinkan dapat diselenggarakan dan diikuti oleh Pemuda se Indonesia. Isi materi dari kegiatan kali ini adalah “Pembekalan hidup Generasi muda Indonesia baik untuk kehidupan dunia dan kehidupan abadi (Akhirat).
Klik disini untuk download Materi Olah Rasa (Power Point)
Liputan Oleh : Budi Prihono (Solo)
UNTUNG CUMA MIMPI
Beberapa waktu lalu, warga Pangestu Samarinda bersama-sama menghadiri olah rasa gabungan Korda Kalimantan, yang bertempat di Cabang Balikpapan. Rombongan itu mencarter sebuah bus dengan muatan kurang lebih 30 orang. Saat dalam perjalanan, terjadi pembicaraan yang lumayan serius dari para warga.
Yu Gunem :
Oleh-oleh dari Banjarmasin saat olah rasa bulan lalu, Mas Jois(Bp. Basuki Hardjoyo), tentang siapkah kita apabila sewaktu-waktu dipanggil menghadap Tuhan?
Mursid :
Nah itulah pertanyaan yang tidak boleh dianggap enteng. Pertanyaan itu memang sangatlah akrab di telinga para warga Pangestu, namun untuk menjawabnya tidaklah sesederhana itu. Sebelum menjawab alangkah baiknya, jika kita meneliti bagaimana level penyiswaan kita kepada Sang Guru Sejati, sungguh-sungguh atau hanya lelamisan.
HARAPAN ITU MASIH ADA
BALIKPAPAN, PANCAMARGA online — “Saya tidak akan mencalonkan lagi untuk periode yang kedua. Saya sudah tua, waktunya untuk mendekat kepada Tuhan. Dan di Pangestu inilah tempat yang tepat untuk mengarah kesana, karena ajarannya sangat bagus. Jika semua orang menjadi warga Pangestu, insyaallah tak akan ada demo, saya akan mengajak jajaran staf saya agar menjadi warga Pangestu. Untuk itu, saya yang akan mulai duluan mejadi warga Pangestu.”
Itulah kata sambutan dari wakil walikota Balikpapan DR Heru Bambang, dan disambut riuh tepuk tangan para peserta olah rasa yang hadir.
Museum Pangestu dijadikan cagar budaya
Gubernur Lemhanas, Budi Susilo (kiri) didampingi Walikota Solo Joko Widodo meninjau Museum Pangestu di Manahan, Solo, Jumat (10/6/2011). Museum Pangestu merupakan salah satu cagar budaya yang terawat cukup baik.
Sumber : Solopos
Kutipan dari Bpk. Mario Teguh untuk Pemuda Indonesia
by : Mario Teguh
Engkau yang terkatung-katung antara besarnya impianmu dan kecilnya kenyataanmu, antara besarnya tanggung-jawabmu dan kecilnya harapanmu, dengarlah ini …
Adik kecintaan hatiku,
Hentikanlah kebiasaanmu memperkuat kegelisahan di dalam lamunanmu.
Cukupkanlah pemanjaanmu atas rasa khawatirmu.
Sudahilah kepatuhanmu kepada kecenderungan untuk menunda pengindahan dirimu.
Hidupmu sudah lama dimulai.
Dan jelas sudah bahwa engkau belum memulai.
Hapuslah air mata hatimu, dan hadapkanlah wajah tulusmu kepada Tuhan, dan katakanlah …











